Rabu, 12 Agustus 2015

Pemakaian ANTIBIOTIKA TIDAK BOLEH sembarangan.

Sejak ditemukan antibiotik oleh Alexander Flemming pada tahun 1920-an, penggunaan antibiotik kini sudah menyebar ke seluruh dunia. Namun kecenderungan yang terjadi, penggunaan antibiotik secara berlebihan justru menimbulkan kerugian. Tidak hanya bagi orang yang mengonsumsi antibiotik, pada sisi lain akan berdampak lebih luas.

Walaupun diagnosa  mikrobiologik hanya dapat dilakukan pada  sebagian kecil kasus penyakit infeksi, tetapi agar kita tetap ada dalam garis pemakaian antibiotik  yang rasional kita harus tetap berfikir secara mikrobiologik. Kalau kita menghadapi suatu penyakit  infeksi dengan berbagai macam  simtomnya  harus kita bayangkan  kira-kira kuman apa yang menyebabkannya gram positif atau gram negatif, ataukah  anaerob/dan terhadap antibiotika yang mana kuman tersebut diperkirakan masih sensitif .
Anggapan  bahwa antibiotik  yang lebih baru  dan lebih  mahal mujarab dari antibiotika  yang sudah lama digunakan  merupakan anggapan  yang salah . Justru banyak antibiotika  yang baru menpunyai spesifikasi tertentu  sehingga  bila  tidak dipergunakan sesuai dengan spesifikasinya maka khasiatnya  tidak seperti  yang diharapkan .

PRINSIP DASAR PENGGUNAAN  ANTIBIOTIK RASIONAL

–          Tepat  indikasi
–          Tepat  penderita
–          Tepat pemilihan jenis antibiotika
–          Tepat dosis
–          Efek samping minimal
–          Bila di perlukan  : Kombinasi yang tepat
–          Ekonomik
Ada beberapa hal penting  mengenai antibiotika yang perlu di ketahui sebelum kita memilih dan menggunakannya yaitu:
  1. Sifat aktifitasnya
  2. Spektrum
  3. Mekanisme kerja
  4. Pola resistensi
  5. Efek samping
Di samping itu perlu diperhatikan  pengalaman-pengalaman  klinik sebelumnya.
1.    Sifat aktifitasnya
Bakteriostatik : menghambat pertumbuhan kuman dengan cara menghambat   metabolisme kuman
Bakteriosidik : Membunuh kuman misalnya dengan cara merusak dinding sel
Untuk infeksi yang berat apalagi kalau keadaan  pertahanan  tubuh penderita kurang     baik maka sebaiknya  dipilih antibiotik yang bersifat bakteriosidik.
  1. Pengetahuan  tentang sifat aktifitas ini juga penting kalau kita ingin menggabung  antibiotika. Pemakaian gabungan antibiotika yang bersifat bakteriostatik bersama  antibiotika  yang  bakteriosidik akan mengurangi  khasiat antibiotika bakteriosidik . Hal ini disebabkan karena antibiotika yang bersifat bakteriosidik umumnya khasiatnya  baik  bila kuman  tersebut membelah  dengan cepat, sedangkan  antibiotik yang   bersifat bakteriostatik  akan menyebabkan  pembelahan  kuman yang menurun  sehingga akan  menghambat khasiat antibiotika yang bersifat bakteriosidik.
2.   Spektrum antibiotika

Spektrum sempit : Hanya menghambat atau membunuh  kelompok kuman tertentu
Spektrum luas : Dapat menghambat baik kuman gram positif maupun gram negatif
Pemakaian antibiotika spektrum sempit dilakukan bila jenis kuman yang menyebabkan infeksi sudah diperkirakan  atau dipastikan. Sedangkan bila jenis kuman tidak dapat dipastikan maka dipakai antibiotika spektrum luas.
3. Mekanisme kerja antibiotika

  1. Antibiotika yang menghambat  metabolisme sel kuman
Contoh : Sulfonamid
Trimetophrim
  1. Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel kuman
Contoh : Penicillin
Sefalosporin
  1. Antibiotik yang mengganggu keutuhan  membran  sel kuman
Contoh : Polimiksin
  1. Antibiotik yang menghambat sintesa protein sel kuman
Contoh : Aminoglikosid
Makrolid
Tetrasiklin
Kloramfenikol
  1. Antibiotik yang  menghambat sintesa  asam nuleat kuman
Contoh : Rifampisin
Kuinolon
4.  Pola Resistensi
Dalam pemakaian  antibiotika  perlu diperhatikan  pola resistensi kuman setempat, misalnya : Campylobacter jejuni di  Indonesia  masih sensitif terhadap siprofloksasin  tetapi di Thailand banyak resisten terhadap  Siprofloksasin  karena di sana  Siprofloksasin banyak di pakai untuk  terapi STD.
5.  Efek Samping

Ada 3 macam efek samping  yaitu
–    reaksi alergi
–    reaksi idiosikratik
–    dan reaksi  toksik.
Contoh dari reaksi idiosinkratik adalah pemakaian  Primaquin  dapat merangsang  terjadinya anemia hemolitik berat pada individu-individu tertentu. (Blackwater fever)
Contoh reaksitoksik adalah gangguan  pertumbuhan  gigi akibat pemakaian tetrasiklin.
PENGELOMPOKAN JENIS ANTIBIOTIKA

Antibiotika  dapat dibagi menjadi beberapa kelompok utama yaitu :
  1. Golongan betalaktam
  2. Golongan Aminoglikosida
  3. Golongan  Sulfonamid
  4. Golongan  Tetrasiklin dan Chloramphenicol
  5. Golongan Makrolid
  6. Golongan Metronidazol
  7. Golongan Rifampisin
  8. Golongan Linkosamid
  9. Golongan Kuinolon
Kelompok antibiotik  yang  paling banyak  dipakai sehari-hari adalah dari golongan betalaktam dan Aminoglikosida. Berikut akan diuraikan  sifat-sifat  utama dari masing-masing  kelompok :
1.  Golongan Betalaktam :
Yang  termasuk dalam  kelompok ini adalah  :
–          Penicilin
–          Sefalosporin
–          Monobaktam
–          Karbapenem
–          Imipenem
Cara Kerja    : Antibiotika dari golongan  ini bekerja pada dinding  sel kuman .
Salah satu sifat penting  dari  golongan  betalaktam adalah  adanya kemungkinan kepekaan terhadap enzim  betalaktamase yang diproduksi oleh  kuman-kuman tertentu. Enzim betalaktamase dapat merusak cincin betalaktam pada antibiotik tersebut. Kepekaan terhadap enzim  betalaktamase ini berbeda antara jenis-jenis  antibiotika.
Antibiotik jenis betalaktam tertentu juga dapat menghambat kuman yang memproduksi betalaktamase ( Imipenem, Karbepenem, Meropenem)
1. a.     Penisillin

Ada berbagai jenis penisillin :
  1. 1. Penisillin spektrum sempit    : Penicillin G
Benzatin Penicillin
Penicillin
2. Penisillin untuk Stafilokokus : Metisilin
Kloksasilin
Flukloksasilin
Kelompok ini stabil  terhadap betalaktamase.
  1. 3. Penisillin Spektrum Lebar       : Ampisilin
Amoksisilin
Kelompok ini peka terhadap betalaktamase, dapat di pakai untuk gram positif         dan  gram negatif yang tidak memproduksi  betalaktamase.
  1. 4. Penisilin Antipseudomonas     :  Tikarsilin
Sulbenisilin
Carbenisilin
Piperasilin
  1. 5. Inhibitor  betalaktamase            : Sul baktam
Monobaktam
Asam Klavulanat
Karbepenem
Imipenem
Meropenem
Beberapa sediaan antibiotik merupakan gabungan antara antibiotik betalaktam dengan inhibitor betalaktamase, misalnya :
Amoksisilin – Clavulanic acid
Ampisilin – Sulbactam
Cefoperazon – Sulbactam
Ticarsilin – Tazaobactam
1. b.    Sefalosporin  :
1. Sefalosporin Generasi pertama  : Sefalotin
Sefradin
Cefazolin                                                                                                                                 Sefalexin
Sefadroksil
Sefalosporin generasi pertama tidak dapat dipakai untuk kuman gram negatif,
Anaerob, dan tidak dapat dipakai untuk Pseudomonas.
  1. 2. Sefalosforin Generasi kedua         : Sefamandol
Sefositin
Sefuroksin
Sefaklor
Sefalosforin  Generasi  kedua  lebih tahan terhadap betalaktamase, dibandingkan  dengan Generasi pertama.
  1. 3. Sefalosforin Generasi ketiga        : Sefotaksim
Seftriakson
Sefoperazon
Seftasidim
Sefalosporin  generasi ketiga  kebal terhadap betalaktamase .
  1. 4. Sefalosporin generasi keempat        :  Sefepim injeksi
Sefpiron injeksi
Cedifnir oral
Cedifnir dibuat khusus untuk kuman stapilococcus aurius.
Sefalosporin generasi keempat lebih kebal terhadap betalaktamase dibandingkan dengan sefalosporin generasi ketiga. Tetapi beberapa tahun belakangan ini ditemukan bahwa sefalosporin generasi kedua, ketiga, dan keempat juga dapat dirusak oleh kuman yang menghasilkan betalaktamase dari jenis extended spectrum betalaktamase.
II.   Aminoglikosid  : Golongan Aminoglikosit mempunyai sifat Nefrotoksik dan   Ototoksik.
–          Streptomisin
–          Gentamisin
–          Tobramisin
–          Netilmisin
–          Amikasin
–          Spektinomisin.
Streptomisin       :  Untuk infeksi paru dan tuberkulosa
Kanamisin          :  Untuk infeksi paru dan gonore
Gentamisin         :  Untuk  infeksi gram negatif
Tobramisin         :  Untuk pseudomonas
Netilmisin           :  Ototoksisitas lebih rendah
Amikasin            :  Dipergunakan untuk kuman yang resisten  terhadap Gentamisin, tobramisin dll.
Spektinomisin    :  Khusus untuk Gonore.
III.  Sulfonamid    :

Pemakainan Sulfonamid  sendirian praktis sudah ditinggalkan karena makin banyak kuman yang resisten. Gabungan Sulfamethoxazole dengan trimetoprim
( Cotrimoxazole ) masih banyak dipakai walaupun sudah makin banyak ditinggalkan karena alasan yang sama. Gabungan ini dipakai untuk :
–          Infeksi saluran kencing bagian bawah yang ringan .
–          Eksaserbasi  bronchitis kronik
–          Deman tifoid  ( bukan pilihan pertama  karena angka resistensi makin meningkat )
–          Terapi  pnemocystis carini  ( Pada penderita AIDS ).

IV.  Tetrasiklin dan Klorampenikol

Tetrasiklin dan Doksisiklin  ( Long  acting )
Karena  banyak kuman  yang kebal terhadap tetrasiklin  maka antibiotik ini relatif jarang dipakai kecuali untuk infeksi-infeksi tertentu.
Infeksi kuman berikut  obat  pilihannya adalah tetrasiklin   :
–          Vibrio Cholera (sekarang banyak strain vibrio cholera yang resisten terhadap tetrasiklin)
–          Ricketsiosis
–          Chlamidia
–          Mycoplasma pnemoniae.
–         
Kloramfenikol dan Thiamphenikol
Indikasi pemakaian  Kloramfenikol semakin sempit dan kini hanya dianjurkan  untuk demam tifoid dan Salmonellosis lainya  serta infeksi H. Influenzae misalnya pada  Meningitis Purulenta.
V.  Makrolid :
–          Eritromisin
–          Spiramisin
–          Roksittromisin
–          Klaritromisin
–          Azitromisin ( Long Acting ).
Makrolid  adalah antibiotika Bakteriostatik untuk kuman Gram Positif. Golongan Makrolid merangsang lambung terutama eritromisin. Makrolid yang baru tidak merangsang lambung dan  lebih poten. Salah satu khasiat penting yang dipunyai klaritomisin adalah kemampuan untuk menghambat pertumbuhan kuman Helicobacter pylori bila digabung dengan antibiotik lain, misalnya Amoksisilin atau Metronidazol.
VI.  Metronidazol
Metronidazol hanya berkhasiat  terhadap kuman-kuman  anaerob dan tidak untuk    kuman  lain. Penyerapannya sangat baik  sehingga kadar dalam  darah  sama tingginya walaupun  diberikan  dalam berbagai macam cara misalnya  parenteral, oral maupun dengan  Suppositoria.
VII. Rifampisin

Sebenarnya banyak kuman yang  peka terhadap Rifampisin yaitu :
–          S. Aureus
–          S. Epidermidis
–          N. Meningitides
–          N. Gonorrhea
–          H. Influenzae
–          Legionella
–          Mycobacterium
Namun karena  kekebalan kuman cepat sekali timbul terhadap Rifampsisin maka antibiotika ini hanya dianjurkan  untuk M. Leprae dan M. Tuberculosis.
Antibiotika ini dapat menimbulkan  Hepatitis pada individu -individu yang peka dan dapat menimbulkan kematian.
VIII.    Linkosamid    :
–          Linkomisin
–          Klindamisin.

Secara teoritik Klindamisin  lebih baik dibandingkan  dengan Linkomisin karena efek  sampingnya lebih rendah, dan khasiatnya lebih baik. Antibiotik ini dipakai untuk kuman anaerobik misalnya  B. fragilis. Antibiotik ini bagus  khasiatnya  untuk abses paru karena  kuman anaerob. Salah satu ciri khas dari antibiotik ini adalah daya tembusnya yang baik  ke dalam tulang .

Pemakaian  Klindamicin harus berhati-hati karena dapat menekan  kuman anaerob dalam saluran  makanan sehingga dapat menimbulkan  enterokolitis Pseudomembran .

IX.     Kinolon       :

–          Asam Nalidiksat

–          Asam Pipemidat

Kedua obat di atas merupakan Kinolon generasi pertama. Kedua obat tersebut hanya dapat dipakai sebagai antiseptik untuk infeksi saluran kemih. Kinolon yang lebih  baru tersebut dengan Fluorokinolon dan mempunyai khasiat yang lebih kuat dibandingkan  Kinolon lama .

Contoh :

–          Siprofloksasin

–          Norfloksasin

–          Ofloksasin

–          Pefloksasin

–          Levofloksasin
–          Gatifloksasin

Kinolon  terutama aktif untuk kuman gram  negatif dan kurang baik khasiatnya untuk  kuman gram positif. Daya tembus kedalaman tulang  baik oleh karena itu  baik untuk Osteomyelitis dengan kuman  penyebab  yang belum diketahui.

Pemakaian   Kinolon dalam klinik  :

–          Infeksi saluran kemih  termasuk Prostat

–          Infeksi saluran nafas bagian bawah

–          STD

–          Infeksi jaringan lunak dan tulang

–          Meningitis pada orang dewasa.


PERAN  PEMERIKSAAN  MIKROBIOLOGIK
DALAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA

Peranan pemeriksaan  mikrobiologik  sangat besar  artinya  dalam penggunaan antibiotika secara rasional. Sebab dengan adanya  pemeriksaan mikrobiologik maka baik jenis  kuman  maupun pola  kerentanan  terhadap antibiotika akan diketahui  sehingga memudahkan  pemilihan antibiotika. Memang hal ini sangat sulit dilakukan  di Indonesia karena masih  sangat terbatasnya fasilitas laboratorium. Saat ini di Indonesia pemeriksaan  mikrobiologik hanya tersedia  di Rumah  Sakit tipe A dan B, dan harus diakui bahwa motivasi para klinisi  untuk menggunakan pemeriksaan  mikrobiologik  masih sangat  rendah .
Pada petunjuk pemakain  obat  rasional  yang diterbitkan  oleh Departemen  Kesehatan , untuk Infeksi  tersebut  di bawah bila  memungkinkan  perlu di lakukan  pemeriksaan  mikrobiologik
–          Sepsis
–          Meningitis
–          Peritonitis
–          Salmonelosis
–          Keracunan makanan karena bakteri
–          Mionekrosis
–          ISPA
–          Tuberkulosis
–          STD
–          Kandidiasis

PEMAKAIAN ANTIBIOTIKA  BERDASARKAN ” EDUCATED GUESS “


Dalam keadaan  ideal kuman penyebab  infeksi dapat diketahui  dengan pasti  misalnya dari hasil  pembiakan, demikian  pula  pilihan antibiotika  dapat dilakukan  dengan mudah karena sudah ada hasil  tes  sensitifitas.  Terapi yang didasarkan atas pemeriksaan  mikrobiologik disebut terapi definitif. Tetapi dalam  keadaan  sehari-hari  pemeriksaan mikrobiologik  tersebut tidak dapat  dilaksanakan  karena terbatasnya  fasilitas, atau tidak mungkin  ditunggu  hasilnya sehingga kita harus segera  memberikan  antibiotika. Dalam keadaan ini kita menggunakan  prinsip  ” EDUCATED GUESS ” dengan mempertimbangkan  organ atau sistem  yang kena infeksi, kuman penyebab dan kemudian  menentukan  antibiotika  mana yang paling sesuai .

Minggu, 09 Agustus 2015

APOTEK KIMIA FARMA HARAPAN INDAH BEKASI BUKA 24JAM NONSTOP!!!

Apotek Kimia Farma Harapan Indah BUKA 24 JAM NONSTOP.
SATU-SATUNYA APOTEK Di kawasan Harapan Indah yang BUKA 24JAM!
 CONTACT US:
TELKOM: (021) 294 65 444
BBM : 081281909694
GMAIL : aptkf.330thi@gmail.com
Blog : kimiafarmaharapanindah.blogspot.com
ONE STOP HEALTHCARE SOLUTION

PRAKTEK DOKTER UMUM DI APOTEK KIMIA FARMA HARAPAN INDAH BEKASI

PRAKTEK DOKTER UMUM
SETIAP HARI (PAGI)
PUKUL 09.00 - 12.00 WIB
CONTACT US:
TELKOM: (021) 294 65 444
BBM : 32914EBD
GMAIL : aptkf.330thi@gmail.com
Blog : kimiafarmaharapanindah.blogspot.com
ONE STOP HEALTHCARE SOLUTION

PRAKTER DOKTER GIGI DI APOTEK KIMIA FARMA HARAPAN INDAH BEKASI

PRAKTEK DOKTER GIGI
Drg. Edwina - Drg. Mahrita,SP. Perio - Drg. Khudri
SENIN - KAMIS - SABTU (PAGI)
PUKUL 09.00 - 12.00 WIB
SETIAP HARI (SORE)
PUKUL 17.00 - 21.00 WIB
HARI MINGGU: DENGAN PERJANJIAN
Terima Kasih... Semoga Sehat Selalu..

APOTEK KIMIA FARMA HARAPAN INDAH BEKASI BUKA 24 JAM

Apotek Kimia Farma Harapan Indah BUKA 24 JAM NONSTOP.
SATU-SATUNYA APOTEK Di kawasan Harapan Indah yang BUKA 24JAM

Sabtu, 09 Mei 2015

APOTEK KIMIA FARMA HARAPAN INDAH BEKASI BUKA 24 JAM NONSTOP!!


APOTEK KIMIA FARMA HARAPAN INDAH BEKASI BUKA 24JAM NONSTOP!!
SATU-SATUNYA APOTEK DI KAWASAN KOTA HARAPAN INDAH YAANG BUKA 24 JAM...

APOTEK KF NO.330 KOTA HARAPAN INDAH BEKASI
JL.BULEVAR HIJAU BLOK B8 NO.9 KOTA HARAPAN INDAH
TELP: 021-294 65 444

Selasa, 04 Maret 2014

Batuk Kronik: Gangguan yang Menjengkelkan

Anak-anak mengalami beberapa episode infeksi virus saluran pernapasan setiap tahun. Infeksi virus saluran pernapasan ini meliputi rhinovirus, influenza, parainfluenza, respiratory syncytial virus (RSV), enterovirus, dan sejumlah strain adenovirus. Umumnya gangguan ini akan sembuh sendiri, namun pada beberapa kasus infeksi virus pernapasan bukan penyakit ringan yang sembuh sendiri. Demikian dikatakan dr. Nastiti Kanwandani, SpA dihadapan peserta Simposium Respiratory Care Indonesia (RESPINA), di Jakarta, 3 Desember 2011.
Salah satu gejala infeksi virus saluran pernapasan adalah batuk. Batuk yang menyertai infeksi virus pernapasan berlangsung selama 3-8 minggu,kata dr. Nastiti. Salah seorang pakar di Afrika Selatan, Maras, melakukan penelitian pada anak-anak berusia di bawah 13 tahun dengan batuk lebih dari 2 minggu dan tidak responsif dengan pemberian terapi antibiotik lini pertama (amoksisilin oral selama 5 hari). Penelitian tersebut menemukan bahwa batuk merupakan diagnosis yang paling lazim pada seluruh kelompk usia, terutama pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun (45/54, 83,3%). dr. Nastiti juga mengutip salah satu penelitian tentang etiologi batuk. Penelitian Chow, 2004, menyatakan bahwa pada kelompok usia awal masa kanak-kanak, etiologi batuk di antaranya adalah hiper responsivitas saluran napas pascainfeksi virus Airway hyperresponsiveness (AHR).

AHR merupakan manifestasi klinis utama dari asma. Gejala ini merupakan respons jalan napas terhadap rangsangan seperti pada olah raga atau penghambatan sejumlah agen yang merefleksikan beratnya asma dan perubahan terapi. Peningkatan AHR biasanya dimulai setelah infeksi virus rhinovirus,baik pada penderita asma maupun bukan. Meski demikian, adakalanya infeksi virus pernapasan juga
meningkatkan AHR pada anak-anak sehat. Mekanisme yang terjadi pada anak sehat bisa karena peningkatan vagus yang dimediasi bronkokonstriksi, stimulasi sensorik serat C, kerusakan epitel, peningkatan reaksi fase akhir, dan produksi IgE spesifik virus. Batuk yang disebabkan AHR umumnya akan sembuh sendiri. Kalau diperlukan, steroid jangka pendek dapat diberikan, kata dokter yang bertugas di RSCM ini.

Tema Chronic Cough: An Annoying Disorder menjadi bahasan pembicara selanjutnya, yakni dr. Jennifer Ann Mendoza-Wi. "Batuk merupakan gangguan yang membuat pasien mencari pengobatan," katanya. Di Inggris, sekitar 10-15% populasi mengalami batuk dan mengonsumsi 75 juta dosis pengobatan OTC setiap tahun. Berdasarkan penyebabnya, batuk dapat disebabkan oleh postnasal drip syndrome, asma dan/atau GERD. Pada kelompok ini, batuk yang terjadi bersifat kronik. Jenis batuk lain yakni batuk flu, batuk bronkitis akut, batuk pasca infeksi, dan batuk pertusis. Pasien yang mendapat ACE-Inhibitor juga kerap mengalami batuk. Pada kasus ini, penghentian sementara pemberian ACE-Inhibitor dapat dilakukan. Dalam melakukan penatalaksanaan batuk, dokter asal Filiphina ini menganjurkan untuk melakukan anamnesis mendalam terhadap pasien. Padapasien dapat ditanyakan apakah mendapat terapi ACE-Inhibitor, apakah pasien merokok, apakah ada penyakit sistemik yang mendasari masalah pernapasan, dan sebagainya. Setelah itu, dapat dilakukan uji spirometri untuk menilai sejauh mana fungsi pernapasan pasien. Tahap selanjutnya adalah memberikan terapi kepada pasien sesuai penyebab batuknya. Misalnya, pada pasien postnasal drip syndrome dapat diberikan antihistamine, ICS (kortikosteroid inhalasi), dan antibiotik. Sedangkan pada batuk pasca-infeksi dapat diterapi dengan Ipratropium, kortikosteroid inhalasi, dan agen antitusif seperti kodein atau dextromethorphan jika terapi lain tidak membawa hasil.

Dalam simposium tersebut diadakan pameran farmasi yang diikuti oleh puluhan perusahaan farmasi di Jakarta. PT Kimia Farma yang juga menjadi sponsor sesi di atas, turut berpartisipasi dengan mengedepankan produknya Codipront. Agen antitusif ini mengurangi batuk dengan menekan sentral pusat batuk. Obat ini mengurangi intensitas dan frekuensi batuk, satu jam setelah pemberian. Aksi obat ini diperpanjang karena formulasi sustained release.(medika/hidayati)...
Anak-anak mengalami beberapa episode infeksi virus saluran pernapasan setiap tahun. Infeksi virus saluran pernapasan ini meliputi rhinovirus, influenza, parainfluenza, respiratory syncytial virus (RSV), enterovirus, dan sejumlah strain adenovirus. Umumnya gangguan ini akan sembuh sendiri, namun pada beberapa kasus infeksi virus pernapasan bukan penyakit ringan yang sembuh sendiri. Demikian dikatakan dr. Nastiti Kanwandani, SpA dihadapan peserta Simposium Respiratory Care Indonesia (RESPINA), di Jakarta, 3 Desember 2011.
Salah satu gejala infeksi virus saluran pernapasan adalah batuk. Batuk yang menyertai infeksi virus pernapasan berlangsung selama 3-8 minggu,kata dr. Nastiti. Salah seorang pakar di Afrika Selatan, Maras, melakukan penelitian pada anak-anak berusia di bawah 13 tahun dengan batuk lebih dari 2 minggu dan tidak responsif dengan pemberian terapi antibiotik lini pertama (amoksisilin oral selama 5 hari). Penelitian tersebut menemukan bahwa batuk merupakan diagnosis yang paling lazim pada seluruh kelompk usia, terutama pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun (45/54, 83,3%). dr. Nastiti juga mengutip salah satu penelitian tentang etiologi batuk. Penelitian Chow, 2004, menyatakan bahwa pada kelompok usia awal masa kanak-kanak, etiologi batuk di antaranya adalah hiper responsivitas saluran napas pascainfeksi virus Airway hyperresponsiveness (AHR).
AHR merupakan manifestasi klinis utama dari asma. Gejala ini merupakan respons jalan napas terhadap rangsangan seperti pada olah raga atau penghambatan sejumlah agen yang merefleksikan beratnya asma dan perubahan terapi. Peningkatan AHR biasanya dimulai setelah infeksi virus rhinovirus,baik pada penderita asma maupun bukan. Meski demikian, adakalanya infeksi virus pernapasan juga
meningkatkan AHR pada anak-anak sehat. Mekanisme yang terjadi pada anak sehat bisa karena peningkatan vagus yang dimediasi bronkokonstriksi, stimulasi sensorik serat C, kerusakan epitel, peningkatan reaksi fase akhir, dan produksi IgE spesifik virus. Batuk yang disebabkan AHR umumnya akan sembuh sendiri. Kalau diperlukan, steroid jangka pendek dapat diberikan, kata dokter yang bertugas di RSCM ini.
Tema Chronic Cough: An Annoying Disorder menjadi bahasan pembicara selanjutnya, yakni dr. Jennifer Ann Mendoza-Wi. "Batuk merupakan gangguan yang membuat pasien mencari pengobatan," katanya. Di Inggris, sekitar 10-15% populasi mengalami batuk dan mengonsumsi 75 juta dosis pengobatan OTC setiap tahun. Berdasarkan penyebabnya, batuk dapat disebabkan oleh postnasal drip syndrome, asma dan/atau GERD. Pada kelompok ini, batuk yang terjadi bersifat kronik. Jenis batuk lain yakni batuk flu, batuk bronkitis akut, batuk pasca infeksi, dan batuk pertusis. Pasien yang mendapat ACE-Inhibitor juga kerap mengalami batuk. Pada kasus ini, penghentian sementara pemberian ACE-Inhibitor dapat dilakukan. Dalam melakukan penatalaksanaan batuk, dokter asal Filiphina ini menganjurkan untuk melakukan anamnesis mendalam terhadap pasien. Padapasien dapat ditanyakan apakah mendapat terapi ACE-Inhibitor, apakah pasien merokok, apakah ada penyakit sistemik yang mendasari masalah pernapasan, dan sebagainya. Setelah itu, dapat dilakukan uji spirometri untuk menilai sejauh mana fungsi pernapasan pasien. Tahap selanjutnya adalah memberikan terapi kepada pasien sesuai penyebab batuknya. Misalnya, pada pasien postnasal drip syndrome dapat diberikan antihistamine, ICS (kortikosteroid inhalasi), dan antibiotik. Sedangkan pada batuk pasca-infeksi dapat diterapi dengan Ipratropium, kortikosteroid inhalasi, dan agen antitusif seperti kodein atau dextromethorphan jika terapi lain tidak membawa hasil.
Dalam simposium tersebut diadakan pameran farmasi yang diikuti oleh puluhan perusahaan farmasi di Jakarta. PT Kimia Farma yang juga menjadi sponsor sesi di atas, turut berpartisipasi dengan mengedepankan produknya Codipront. Agen antitusif ini mengurangi batuk dengan menekan sentral pusat batuk. Obat ini mengurangi intensitas dan frekuensi batuk, satu jam setelah pemberian. Aksi obat ini diperpanjang karena formulasi sustained release.